Bertaruh Nyawa

February 28, 2009 by Ilhamchoir · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
Seorang lelaki sedang menambal genteng ruang satpam di sebuah perusahaan. Penyebabnya, air sering masuk ke ruangan saat hujan. Pekerjaan ini dilakoninya tanpa memperhatikan keselamatan kerja. Peralatan pengaman tidak ada yang disematkan, padahal sedang terjadi rintik hujan. Upah yang tidak terlalu besar pun diterimanya meski harus bertaruh nyawa. Foto diambil pada 25 Pebruari 2009.

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009, Yuuuk!

February 27, 2009 by lady · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
Pemilu semakin dekat. Memang kenapa? Gak papa sih, akhirnya saya bikin juga tulisan tentang kampanye pemilu damai, terutama yang (semoga) sesuai dengan kontes SEO yang sedang berlangsung sejak awal bulan ini. Ikut meramaikan gitu loh..

Saya melihat di televisi partai politik terus berlomba-lomba berkampanye membangun citra agar dipilih rakyat. Berbagai macam iklan pun dibuat untuk memikat calon pemilih, tentunya dengan isi yang beragam. Ada yang menyerang parpol dan figur lain, ada yang memuji keberhasilan, ada yang mengklaim paling berjasa, dan ada yang mengkritisi serta memanfaatkan golput. lagi-lagi, iklan saling serang antar parpol dan figur akan semakin sengit menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2009. Hmm..

Saya belum pernah melihat kampanye dalam iklan yang tanpa menyerang, menyalahkan maupun mengkritik partai lain. Apa mungkin mereka sudah kehabisan akal untuk meraih simpati rakyat? Menurut saya, dengan mengkambinghitamkan partai yang lain secara tidak langsung mencontohkan keburukan pada rakyat. Betol tidak?

Seharusnya para elit politik tidak mengabaikan bahwa sekarang rakyat semakin pintar untuk menilai mana iklan yang hanya berisi janji-janji palsu. Jadi, marilah melakukan Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Intinya kita mendorong kampanye pemilu dalam situasi damai dan tertib. Untuk itu para parpol hendaknya tampil berkompetisi secara sehat. Siap menang, siap kalah. Setuju kan?



Wajah-Wajah Caleg Kita

February 26, 2009 by mrbambang · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
Saya lihat potret M. Tongtongsot dari Partai Bulan Pecah terpasang berdampingan dengan gambar G. Gundulpringis dari Partai Bintang Bujel. Kedua-duanya terpampang dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa emosi, seperti foto ijazah kursus montir. Dengan kata lain, orang-orang itu memasarkan diri bukan sebagai pribadi, dengan watak yang tersendiri. Yang tampak di sana hanyalah sebuah [...]

Lelaki Laut

February 25, 2009 by Haris Firdaus · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
fiksi


Aku akan memanggilmu Cemara dan kau bisa memanggilku Laut.

Kau tak perlu mengetahui namaku sebagaimana aku tak membutuhkan namamu. Jika sebuah nama diperlukan untuk membuat seseorang menengok saat kita memanggilnya, maka sama sekali kita tak membutuhkannya. Sejak saat ini, kita bisa saling berjanji bahwa aku akan menoleh saat kau memanggil dengan sebutan Laut dan kau akan menengok pada saat kupanggil Cemara. Ini sama sekali bukan sesuatu yang rumit kan?

Ketika diketahuinya perempuan itu tak menyahut, laki-laki itu merasa telah menang. Ia yakin bahwa kalimat-kalimatnya barusan sungguh mempesona, sebaris aksara yang disusun secara rapi sedemikian rupa sehingga siapapun yang mendengarnya akan berdecak. Laki-laki itu amat yakin. Sejak awal membuka obrolan, ia sudah percaya pada kemampuannya untuk berdiplomasi—lebih tepatnya: berakrobat kata-kata.

Di hadapan lawan bicaranya yang ia taksir tak pernah membaca banyak buku itu—apalagi yang berisi puisi—lelaki itu telah tahu bahwa kemenangan akan berpihak kepadanya. Bekalnya lumayan banyak dan dengan itu ia akan selalu yakin banyak kekaguman yang akan disemat baginya. Dan hari ini, beberapa detik silam, ia membuktikan kepercayaan dirinya itu.

Perempuan itu telah takluk, demikian ia membatin.

Kenapa harus laut?

Ketika kalimat tanya dari lawan bicaranya itu terlontar, lelaki itu merasa kemenangan benar-benar sudah ia genggam. Perempuan itu bertanya. Ia penasaran. Itu artinya aku menang. Lelaki itu girang bukan kepalang. Ia tersenyum tanpa berusaha kelihatan bangga. Lalu sebentar ia mengerutkan keningnya. Ia sedang berusaha tampak berpikir. Atau memang, pada akhirnya, ia benar-benar berpikir.

Sebab, meskipun sudah menebak bahwa perempuan itu akan bertanya demikian—lebih dari itu, ia memang mengharapkan perempuan itu akan menanyakan hal tersebut—lelaki itu ternyata tak pernah benar-benar menyiapkan jawaban. Barangkali ia terlampau percaya diri sehingga ia mengharapkan otaknya bisa segera menyembulkan jawaban jika kalimat tanya yang demikian benar-benar diajukan padanya. Namun, kini, ia tak bisa mengandalkan kepercayaan diri semata.

Kenapa aku ingin dipanggil Laut?

Laki-laki itu mengulang kalimat tanya sang perempuan, mungkin supaya terlihat lebih dramatis. Tapi alasannya mengulang kalimat tak perlu itu adalah karena ia butuh waktu, meskipun hanya sejengkal detik, untuk berpikir, merangkai kalimat, dan melontarkannya secara dramatis. Minimal, jawabannya itu harus mengeluarkan pesona yang sama dengan kalimat-kalimat sebelumnya.

Ketika beberapa detik berlalu dalam hening, lelaki itu sadar: meraih kemenangan memang lebih mudah ketimbang mempertahankannya. Ia mulai berkeringat dingin. Beberapa kelebat sajak yang pernah ia baca memang melintas di benaknya, sejumlah kutipan agung yang entah dari mana ia comot juga berjalan-jalan di otaknya. Tapi semuanya seakan tidak berguna. Ia masih belum menjawab pertanyaan itu. Perempuan itu pasti menunggu, ia menggumam dalam hati dengan keyakinan yang dipenuhi belas kasihan pada diri sendiri.

Pada sebuah malam yang membosankan, sebagaimana malam-malam yang kerap ia lalui, laki-laki yang ingin dipanggil Laut itu menghidupkan televisi dan dengan berat hati duduk takluk di hadapannya. Lelaki itu membenci televisi. Sungguh, ia telah mewartakan pendiriannya kepada banyak rekannya, sejumlah tetangganya, dan beberapa manusia yang tak dikenalnya sama sekali.

Tapi malam itu ia takluk. Hawa di rumahnya begitu gerah dan tak ada yang menurutnya bisa dilakukan kecuali menghidupkan televisi. Untuk sementara, aku akan meninggalkan buku-buku dan sajak-sajak itu, katanya dengan bangga—bahkan dalam kesendiriannya yang paling pelosok, ia masih menemukan alasan untuk berbangga pada dirinya sendiri.

Televisi hidup, dan lelaki yang ingin dipanggil Laut itu berusaha keras mendapatkan tayangan yang sedikit berbobot berdasarkan seleranya. Ia menghindari sinetron tentu saja dan juga infotainmen. Debat politik tentang pemilu juga dilewatkannya karena ia sungguh-sungguh yakin bahwa para politisi yang malam itu hadir di layar kaca hanyalah tukang isap.

Satu-satunya acara yang kemudian membuatnya tertarik hanyalah sebuah film asing yang disiarkan satu stasiun televisi swasta. Pada mulanya, lelaki itu tak meyakini ketertarikannya sendiri. Namun begitu mulai memahami alur kisahnya, laki-laki yang ingin dipanggil Laut itu pun merasa mantap. Ia menyimak serius, tiap dialog penting yang menurutnya puitis diingatnya dalam-dalam. Momen-momen visual yang dianggapnya sentral dan bisa memberi banyak makna segera ia hapalkan di luar kepala.

Di akhir kisah, lelaki itu menangis saat menyadari sepasang kekasih yang saling mencintai itu ternyata dipisahkan oleh takdir yang kejam. Laut yang mengamuk, kapal yang karam, tangis ratusan manusia. Momen-momen itu menggetarkannya.

Tapi yang paling membuatnya kagum adalah kenyataan bahwa sepasang kekasih yang dilihatnya dalam film itu ternyata baru saja saling kenal di atas kapal yang mereka tumpangi. Sebelum pelayaran itu, mereka tak memiliki relasi apapun. Pelayaran itulah yang membikin benih-benih asmara tumbuh. Lautlah yang menyatukan mereka, kata laki-laki itu sembari melupakan bahwa laut pula yang memisahkan keduanya.

Sejak saat itu, lelaki itu sangat ingin dipanggil Laut.

Secara gaib, setelah tontonan yang membuatnya merasa telah mengalami semacam metamorfosa itu—sebuah kata yang bisa dipastikan amat hiperbolis—lelaki itu teringat sebuah puisi dari seorang penyair kebanggan negerinya. Sebuah puisi yang dulu di masa-masa patah hatinya begitu ia kenang dan banggakan. Ia hafal puisi itu luar kepala dan dulu ia amat sering membacakannya keras-keras di kamar mandi saat sedang beol atau mandi.

Ingatan tiba-tiba akan sajak patah hatinya membuat lelaki itu takjub. Ia merasa seolah mendapat sebuah ilham, semacam wangsit. Ketakjuban tersebut tambah menjadi tatkala ia sadar bahwa di bait terakhir sajak itu, laut juga disebut-sebut. Ya, potongan baris terakhir sajak itu berbunyi: “di laut tidak bernama”. Laut yang tidak bernama, lelaki itu menggumam beberapa kali. Laut tidak bernama.

Sejak saat itu, lelaki itu benar-benar ingin dipanggil Laut.

Keinginan itu menemui penyalurannya beberapa menit lalu saat ia bersua perempuan itu. Dengan yakin ia mengatakan: Aku akan memanggilmu Cemara dan kau bisa memanggilku Laut. Ini tentu saja awalan ganjil bagi sebuah perkenalan. Tapi laki-laki itu memang hendak tampak ganjil di hadapan perempuan itu. Kalimat pembuka itu kemudian dengan yakin disusul kalimat-kalimat lain yang tak kalah ganjil. Tapi sekali lagi, laki-laki itu memang menginginkan hal yang demikian.

Laki-laki itu tampak puas dengan awalan ganjil itu dan sempat membayangkan seandainya perkenalan ini dilakukan di atas kapal yang berlayar di lautan lepas, sebuah laut tidak bernama—laki-laki itu barangkali alpa bahwa hampir tiap lautan di bumi ini kini telah memiliki nama. Ya, seandainya ia punya kesempatan mewah macam itu.

Kenyataannya tak semewah bayangan lelaki yang ingin dipanggil Laut itu. Ia hanya duduk di hadapan komputer warnet, membuka Yahoo Messenger, dan tiba-tiba menemu sebuah nick name yang aneh: Gadis Cemara. Lalu tiba-tiba ia nyelonong membuka obrolan dengan si empunya nick name ganjil itu. Basa-basi sebentar, lalu ia mulai tebar pesona dengan kata-kata ganjilnya.

Bahkan lelaki yang ingin dipanggil Laut itu tak pernah tahu apakah Gadis Cemara memang benar-benar sosok perempuan. Tapi kenyataannya, ia tak pernah meragukan bahwa sosok yang kemudian dipanggilnya Cemara itu memang perempuan. Ia sadar bisa saja menjadi korban kebodohannya sendiri tapi keyakinan dirinya begitu kuat. Dan ia selalu merasa tak pernah dibohongi oleh kepercayaan dirinya.

Kenapa harus laut?

Kalimat tanya yang diulang oleh kawan chattingnya itu membuat lelaki itu kembali gugup. Sedari tadi, ia belum menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu. Kali ini, ia benar-benar tak bisa mengandalkan kepercayaan atau kebanggan dirinya.

Di seberang, sang Gadis Cemara tertawa, diawali dengan senyum, lalu terpingkal-pingkal sendiri. Sejurus kemudian ia mengganti status Facebook-nya: sedang mengerjai laki-laki yang ingin dipanggil Laut. :D

Haris Firdaus

gambar diambil dari sini

setelah launching ?

February 25, 2009 by mahatma chryshna · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 



Pertanyaan yang muncul setelah hingar bingar acara launching adalah, trus ngapa ? Apakah yang mempersatukan Bengawan ? komunitas yang sangat cair ini disatukan oleh kepemilikan blog dan keterikatan kota. Siapapun dengan latar belakang apapun, asal punya blog dan memiliki keterikatan dengan kota Solo boleh masuk. Kembali lagi, ini benar-benar komunitas kategorial. Ada sedikit "bau" teritorial, tetapi tidak mutlak. Ciri komunitas yang terbantuk karena kesuburan arus informasi ini, mulai mempertanyakan dirinya setelah mulai sedikit diformalkan alias dilaunching. Ciri komunitas semacam ini sebenaranya ingin keluar dari tipikal komunitas atau organisasi militan yang disatukan dengan suatu visi tertentu. Sifat cair dari komunitas ini, secara paradoksal malah dengan sengaja diformalkan. Launching atau pembentukan komunitas, tentu membutuhkan pranata seperti pengurus, administrasi, logo, lambang, dan bahkan bisa jatuh kepada birokrasi. Padahal hal semacam itulah yang sebenarnya sedang ditolak (entah disadari entah tidak).

Arah dari komunitas semacam ini memang kesatuan ke dalam, tetapi bila tidak hati-hati akan asyik pada dirinya sendiri dan lupa bahwa realitas di sekitarnya butuh bantuannya. Walau tiap orang bisa memiliki beragam motif bergabung, komunitas macam ini muncul dari ketidakberanian manusia untuk memeluk sepi. Hal ini nampak jelas dari kesan pada waktu launching. Setiap komunitas tetap terpaku pada komunitasnya dan tidak cepat membaur. Sifat manusia yang jelas terlihat di sini adalah sifat bergerombol, ada dalam kerumunan. Ke-AKU-an diafirmasi dalam kebersamaan, dan yang lain adalah liyan. Lebih parah lagi, saat merasa bahwa komunitas ini adalah golongan elit manusia yang sudah melek informasi, padahal hal ini adalah celah untuk bisa berbuat lebih bagi orang lain. Dua program yang sudah keluar adalah pengumpulan buku dan pusat informasi banjir (viva bengawan !!)

Secara khusus, membahas launching, hal yang paling menarik adalah cara Walikota menarik perhatian warganya demi suksesnya program yang ia buat. Cara yang dibuat sangat manusiawi, yaitu "nguwongke" setiap warga sehingga semua didengarkan dan dirangkul. Tiap kali akan mengadakan program, pendekatan dilakukan dengan makan bersama. Hal itu dirasa berdampak positif. Bahkan, bengawanpun dirangkul dengan cara yang sama yaitu diberi makan dan difasilitasi tempat launching. Tujuannya jelas, Solo ingin disebarluaskan, diwartakan dan diperkenalkan. Dan memang sudah selayaknya.

Pertanyaannya : Apakah bengawan kemudian akan dengan mudah menjadi "juru penerang" bagi program kota solo ? bukankah sudah banyak media yang melakukannya dengan cara yang murahan ? memuja-muja, memuji-muji ?

Bukankah walikota dan pemerintah kota akan lebih senang bila yang muncul adalah kritik dan saran baginya ? Ingat kata teman kita Tukul Arwana bahwa pujian adalah ilusi, kita perlu hati-hati. Bengawan bisa banyak berbuat untuk Solo bila bisa memberikan masukan dan kritikan daripada puja-puji.

***

Gema euforia launching masih bergetar, semangat untuk berkumpul dan berbuat sesuatu sedang menggema, semoga tidak memudar menjadi suatu antiklimaks yang melemahkan tetapi menjadi suatu happy beginning untuk kegiatan yang lebih membangun....

{gambar diambil dari http://bengawan.org/wp-content/uploads/2009/02/launching2.jpg}

Launching Komunitas Blogger Bengawan Solo

February 25, 2009 by Tukang Nggunem · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 

 [singlepic=6,320,240,,center]

Setelah tertunda-tunda beberapa waktu, akhirnya Komunitas Blogger Bengawan launching juga. Tepat pada hari Sabtu, 21 Februari 2009 bertempat di Loji Gandrung Solo, Komunitas Blogger Bengawan mengukuhkan keberadaannya di jagat Blogosphere Indonesia.

Sungguh sangat istimewa acara malam itu, beliau Walikota Solo Bapak Jokowi sendiri berkenan untuk mengawal acara dari awal hingga pungkasan. Kemeriahan acara juga ditopang oleh antusiasme saudara-saudara dari komunitas blogger dari beberapa kota yang tumplek blek di Loji Gandrung Solo, terbilang blogger Warok dari Ponorogo, TPC dari Surabaya, Cah Andong dari Jogja, Malhikdua dari Purwokerto, Loenpia dari Semarang, Nggresik dari Gresik serta perwakilan dari Blogger Malang sekaligus blogger Mojokerto (MQ Hidayat).

Tidak ketinggalan juga Bapak Blogger Indonesia Enda Nasution serta blogger-blogger indipenden seperti Pakdhe Wicak “ndoro Kakung”, Pakdhe Antyo Rentjoko “Paman Tyo” , Om Iman Brotoseno, Mas Totok juragan benwit Gunung Kelir, dan Pakdhe Suryaden berbagi keceriaan dan kebahagiaan bersama komunitas Blogger Bengawan dalam acara Launching pada malam itu. Luar biasa adalah kata yang tepat untuk mereka yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri Launching Komunitas Bengawan. Rombongan dari DAGDIGDUG diwakili sendiri oleh Pakdhe Didi Nugrahadi dan Mas Hepi, yang keduanya juga punya sejarah di kota Solo ini.

Terimakasih yang tidak terkira buat person-person yang telah mendukung acara Launching blogger Bengawan ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Kekurangan di sana dan sini dalam pelaksanaan acara memang sangat disadari, untuk itu sekalian mohon dimaafkan apabila ada hal-hal yang tidak berkenan di hati para tamu sekalian.

Silahkan untuk menyimak reportase yang lebih lengkap beserta foto2nya disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, dan disini (kalo ada yang terlewat silahkan tinggalkan pesan nanti saya masukkan).

Isi tulisan disini memang sama plek dengan di blog ini, karena dua-duanya memang blog saya, jadi ya sekarepku… mohon dimaklumi kepekokan ini, salam hangat selalu.

* Diunggah pada Rabu dini hari (25/02) dari Ndalem Panjoelldiningratan


Guru

February 24, 2009 by Joulecar · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
Guru, riwayatmu kini.... Kesejahteraan guru yang dari dulu digembor-gembor kan oleh pemerintah sampai saat ini belum terwujud seluruhnya. Guru adalah orang yang membentuk pribadi tunas bangsa. Mereka lah yang membentuk para profesor yang telah mengharumkan nama bangsa. Namun masalah demi masalah terus menerus menimpa sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa tersebut. Salah satu kasus yang sering terjadi yaitu kasus penganiayaan yang dilakukan oleh sang guru.
Tut wuri handayani
Sudah banyak berita di media masa tentang kasus penganiayaan yang dilakukan oknum guru. Namun sayang di berita-berita tersebut banyak yang memojokkan oknum guru tanpa melihat asal muasal masalahnya. Menurutku, wajar aja kalau guru memarahi siswanya dengan sedikit tindakan fisik apabila murid itu keterlaluan supaya dapat menimbulkan efek jera. Namun apabila tindakan oknum guru tersebut keterlaluan atau menimbulkan luka fisik, barulah pihak guru tersebut harus ditindak tegas dan diberi sanksi sesuai kesalahannya.

tua dan dewasa

February 24, 2009 by Fathur · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
tua itu tidak berarti dewasa, buktinya banyak orang yang sudah tua tapi kelakuannya seperti anak-anak. kaum laki-laki bisanya walaupun sudah tua, sampai sudah berumah tangga sifat kekanak-kanakannya masih tersisa. banyak laki-laki yang kecanduan game. masih suka begadang nggak jelas. seperti lagunya rhoma irama.jangan begadang ketika orang-orang ramai mempersoalkan umur anak-anak yang dianggap

ngantuk..

February 23, 2009 by Fathur · Leave a Comment
Filed under: Aggregator 
dasar dodol...hari ini sabtu, seharian dari pagi aku tidur sampai magrib. sehinggal dimalam hari membuat mataku susah terpejam, mana nggak ada yang nemenin. suebel tenan....dari pada bosan langsung saja ku nyalakan TiPiku, dasar sial yang muncul pertama adalah hantu sundel bolong. gubrak....langsung dek.. dek.. plas. langsung pidah cahnel, tapi kok rasanya pengen liat hantu tadi. hallah...wong

Loji Gandrung Banjir, Walikota Senang

February 23, 2009 by Blontank Poer · 76 Comments
Filed under: Kabar Bengawan 

Rumah dinas Walikota Surakarta kebanjiran, Sabtu (21/2) malam. Ketinggian air bah mencapai sekurangnya 150 CM, sehingga banyak orang memilih bertahan di pendapa Loji Gandrung yang relatif lebih tinggi. Pak Joko Widodo tampak di antara orang-orang yang bertahan itu. Air bah itu datang dari berbagai ‘anak sungai’, di antaranya dari KotaReyog, Ponorogo yang terletak nun jauh di tenggara Waduk Gajah Mungkur.

Selengkapnya →


Next Page »