Sahur bersama Gudeg Ceker Margoyudan
Di Terminal Bus Tirtonadi, waktu menunjukkan jam 2 pagi, istriku baru saja turun dari bus yang mengantarnya dari Surabaya. Sudah kucegah sebenarnya, supaya jangan pergi malam-malam. Apa daya, istri nekat saja. Karena bulan puasa, dan kebetulan istri sedang tidak berhalangan, maka kami berinisiatif membeli nasi untuk sahur.Warung yang masih buka saat itu, yang kutahu, salah satunya adalah Gudeg Ceker Margoyudan. Lokasinya dari Terminal Bus Tirtonadi tak terlalu jauh, tepatnya di Jalan Wolter Monginsidi, atau kalau dari Stasiun Balapan sekitar 1 km menuju ke arah Panggung, di kiri jalan. Konon kabarnya, warung ini tiap harinya buka jam 01.30, pun di luar bulan puasa.
Dari kejauhan sudah tampak ramainya. Dalam warung yang dilingkupi terpal itu nampak seorang ibu tua dikerumuni oleh beberapa pembeli yang nampak tidak sabaran. Ada yang minta dibungkus, tapi banyak juga yang langsung makan di tempat. Ibu tua itu, adalah sang peramu gudeg, yang kalau tidak salah bernama Bu Kasno. Tangannya dengan lincah mengambil gudeg dan mencomot ceker sesuka hati. Wajahnya acuh saja, tak peduli dengan pelanggannya yang minta dilayani lebih dulu. Ceker-ceker itu diambil langsung dengan tangan kosong, tanpa alat bantu. Barangkali sentuhan dari Bu Kasno itulah, selain dari takaran gudeg dan nasi yang terukur tentu saja, yang menjadikan gudeg ini nikmat tak terperi.
Aku sendiri memesan empat bungkus, dua untukku dan dua lagi untuk istriku. Sebungkus rasanya belum cukup untuk mengganjal perut rakus ini. Dilihat dari cara Bu Kasno melayani pembeli, tampaknya ia mempunyai seorang ‘tangan kanan’, yang berada di sebelah kirinya. Belakangan aku tahu namanya Aris. Tugas Aris adalah menjadi jubir sekaligus kasir. Jadi, bila ingin cepat dilayani, dekatilah Aris ini.
Gudeg Ceker ini beda dengan gudeg yang kutemui di Malioboro Jogja. Kalau Gudeg Jogja, lauknya irisan telur rebus dan suwiran daging ayam saja, tanpa cakar ayam. Cakar ayam olahan Bu Kasno ini sangat lunak, sehingga tinggal menyesap saja sudah terpisah antara kulit dan tulangnya. Di sinilah sensasi yang dicari pembeli hingga rela mengantri. Belum lagi bila ditambah dengan nikmatnya gudeg. Hanamasa rasanya tinggal kenangan.
Alhamdulillah, Jaket Baru
"Mbok ya beli jaket baru", kata istri saya suatu saat."Nanti aja lah..wong jaketnya masih bisa dipakai", kataku.
"Tapi kan warnanya udah pudar gitu.."
"Gak masalah..lagian jaketnya cuma dipakai pas keluar aja kok"
Saat melintas di toko sepatu.
"Sepatunya bagus nih..cocok buat kamu pakai di kantor"
"Lho, memangnya sepatuku yang kupakai sekarang kenapa?"
"Aku kurang suka ah..kesannya terlalu kaku gitu"
Aku diam saja.
“Itu lho seperti yang dipakai temenmu..yang kayak orang Cina itu..”
Beberapa hari yang lalu, istri juga mengkritik soal celana pendek yang kupakai. Menurut dia, warnanya juga sudah mulai mbulak.Aku sendiri sebenarnya tak masalah, asalkan celana itu masih bisa menjalankan fungsinya sebagai penutup aurat. Tapi berhubung istri bersikeras dengan pendapatnya, aku pun membeli celana pendek baru, pilihan istri tentu saja.
Bahwa istriku rewel soal pakaian yang kupakai, meski agak merepotkan, dalam hati kecil aku sangat bersyukur. Aku seseorang yang boleh dikata, tak terlalu peduli dengan mode. Seorang teman, bahkan secara terus terang menyebutku lebih cocok disebut sebagai mandor hutan, daripada sebagai dokter, karena berpakaian ala kadarnya. Beberapa kaos trendi, adalah pemberian dari istriku. Kaosku sendiri, yang kupakai sebelumnya, adalah kaos hadiah dari produk minuman, pemberian pabrik obat, sampai kaos hasil ikut seminar.
Dalam memilih barang pun, istriku sangat selektif. Pernah saat hendak membeli sepatu, kami sudah mengitari seluruh isi mall terbesar di Surabaya, tapi tak ada yang cocok. Kulihat dia masih bersemangat mencari, padahal kakiku rasanya sudah pegal. Akhirnya di menemukan sepatu yang cocok, di mall yang lain. Itu pun setelah aku meyakinkannya, bahwa sepatu itu benar-benar bagus untuknya.
Rupanya, sifat wanita yang kritis, terutama dalam hal penampilan, memang sudah bawaan orok. Menurut John Gray dalam bukunya yang terkenal “Men are from Mars, Women are from Venus”, tertera jelas perbedaan antara pria dan wanita itu.
Di Venus, memberi nasihat dan saran-saran merupakan tanda kasih sayang. Penduduk Venus amat yakin bahwa sesuatu yang bekerja dapat dibuat bekerja dengan lebih baik. Naluri mereka ialah ingin memperbaiki segala sesuatu. Apabila mereka menaruh perhatian kepada seseorang, dengan leluasa mereka menunjukkan apa yang dapat diperbaiki dan menyarankan bagaimana melakukannya. Menawarkan nasihat dan kritik secara membangun merupakan tindakan cinta kasih.
Mars sangat berbeda. Penduduk Mars lebih berorientasi pada penyelesaian. Apabila ada sesuatu yang bekerja, semboyan mereka adalah jangan mengubahnya. Naluri mereka adalah membiarkan saja kalau sesuatu itu telah bekerja.
“Jangan membetulkan kalau tidak rusak”, merupakan ungkapan yang lazim dari penduduk Mars.
The Suratmo’s Fantastic Four
Mungkin kebetulan,kalau aku suka berkumpul bersama kelompok berjumlah empat orang.Masih ingatkah kawan dengan kisah teman-temanku SMA yang tergabung dalam Kapak Hitam?Atau teman-teman kos dalam Punakawan?Tidak lain tidak bukan,Kapak Hitam dan Punakawan itu empat orang jumlahnya.Nah,di kalangan keluarga pun,dari pihak ibu,aku memiliki saudara sepupu yang cukup akrab.Yang paling akrab denganku ada tiga orang,dan empat orang ini tergabung dalam kelompok tak resmi yang kunamai, Fantastic Four.Karena nama kakek kami (alm) Pawiro Suratmo, bolehlah ditambah menjadi The Suratmo’s Fantastic Four.Jangan membayangkan kami seperti kumpulan superhero macam di kartun-kartun itu,karena kamu pasti akan dibuat kecewa karenanya.
Anggota tertua kami,yang sering kami panggil 'kepala suku',Kame namanya.Paling tua,tapi tubuhnya paling pendek diantara kami berempat.Dua kata kunci untuk sepupuku ini adalah: pencak silat dan gitar.Waktu kami masih kecil,Kame sangat terobsesi dengan bela diri.Di kamarnya terpajang poster Bruce Lee bertelanjang dada,dengan luka bekas cakaran di pipi yang tersohor itu.Saking terobsesinya,aku diminta untuk memukuli perutnya dengan bambu.Maksudnya mungkin untuk melatih otot perutnya.Tidak tega sebenarnya,tapi dia sendiri yang meminta.Obsesi,kadang-kadang membahayakan diri sendiri.
Soal gitar,ada sangkut pautnya dengan kegilaannya pada musik.Musik yang sering diputar saat masih SD dulu adalah musik Iwan Fals.Kadang-kadang juga menyetel karya Scorpions.Kaos-kaosnya juga beberapa bertemakan musik,mulai dari Queen sampai Gun n Roses.Keterlambatannya menyelesaikan kuliah di Surabaya juga mungkin berkaitan erat dengan acara memetik gitar ini.Seleranya sekarang adalah lagu-lagu trash metal dan punk rock.Rambutnya dulu juga pernah gondrong,mungkin juga untuk memadu padankan aksinya selama di panggung.Hobi musik,bila berlebihan,akan menghambat kelancaran studi.
Tertua nomor dua adalah Indro.Badannya tinggi,hampir sama denganku.Tapi badannya proporsional,maksudku,berat badannya seimbang dengan tinggi badannya.Tidak sepertiku yang kurus kerempeng.Lahir dan besar di Surabaya.Ibunya adalah pembuat roti yang ulung.Bila lebaran tiba dan keluarganya mudik ke tempat kakek di Sukoharjo,hampir pasti membawa nastar dalam porsi besar.Kadang juga ibunya memberi uang saku untuk para keponakannya.Bahkan,uang yang diberi ibunya sampai saat ini masih kusimpan,tidak kubelanjakan.Uang itu berjumlah 2000 rupiah yang terdiri atas 20 lembar uang kertas pecahan 100 rupiah.Baru keluar dari bank,bentuknya masih mulus,karena itu sayang bila dibelanjakan,sampai sekarang.
Indro,karena besar di Surabaya,berbeda dengan ketiga anggota lainnya,yang kebetulan berasal dari daerah udik.Dia orang pertama yang menguasai teknik bermain gitar yang baik.Banyak hal baru yang dibawanya ketika mudik lebaran,terutama soal mainan.Yang paling menyenangkan adalah monopoli.Aku yang paling betah berlama-lama dengan mainan ini.Maklum,waktu itu mainanku cuma kelereng dan ketapel.
Berikutnya adalah Kime, adik kandung Kame.Walaupun lebih muda,tapi badannya lebih bongsor dibanding kakaknya.Saat kecil,aku paling sering bermain keluar dengannya.Termasuk kegiatan kami meneliti berbagai macam sarang burung.Dan bila ada burung naas lewat, kami pun tidak segan-segan untuk membidiknya dengan ketapel.Bila hujan tiba,bermain kapal-kapalan.Kapal yang dimaksud adalah bunga tapak dara yang dibalik.Begitu saja lalu kami ikuti sesuai arah aliran selokan.Dan bila memungkinkan,kami balapan dengan kapal palsu itu.
Setelah beranjak dewasa,dirinya kuliah di Jogja mengambil jurusan teknik elektro.Berbeda dengan kakaknya, dia lebih tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan handphone.Mulai dari jual beli,reparasi,sampai isi ulang pulsa.Kesibukannya inilah yang kemudian sedikit banyak menghambat kelancaran studinya.Aku meyakini bahwa orang yang sudah tahu cara mencari uang,akan menimbulkan kemalasan dalam belajar.
Anggota yang terakhir adalah diriku.Kurasa,aku tak perlu lagi menerangkan tetek bengek soal diriku.Karena kalau aku bilang bahwa aku mirip dengan kelakuan Brad Pitt pastilah kalian akan mencemoohkanku sebagai orang yang salah menilai diri.
Jepitan Jemuran
Fotografi,adalah salah satu hobiku.Sudah lama sebenarnya aku mengenal fotografi,tepatnya saat kuliah dulu.Karena tak punya kamera,aku meminjam kamera dari seorang teman.Saat itu aku belum mengenal adanya kamera digital,jadi masih memakai rol film.
Sungguh merepotkan kamera dengan rol film itu,sekaligus tak efektif,karena seringkali hasil cetakan yang didapat tidak sesuai dengan gambaran yang diinginkan.Akibatnya,banyak film yang terbuang percuma.Akhirnya aku berhenti,karena dana yang terbatas,selain juga sungkan karena terlalu sering meminjam kamera teman.
Dan baru dua minggu yang lalu aku mampu membeli kamera DSLR,seperti yang kuidam-idamkan dari dulu.Merknya Canon EOS 1000D.Kameraku sebelumnya adalah kamera saku,merknya juga Canon,tipe Powershot A460.Kamera itu rusak,dan biaya perbaikannya hampir sama bila membeli kamera yang baru dengan merk yang sama.
Dedaunan,bunga,lebah,atau bahkan jepitan jemuran pakaian di rumah,yang seringkali dianggap remeh,bisa menjadi obyek yang istimewa bagi seseorang yang memiliki hobi fotografi.Seperti halnya foto di atas.
Pada dasarnya,aku menyukai kamera DSLR karena kemampuannya membuat area yang kabur di belakang obyek utama.Selidik punya selidik,cara mendapatkannya mudah saja.Tinggal setting aperture sebesar mungkin kemudian atur kecepatan rana sedemikian rupa hingga eksposurnya pas,lalu jepret.Selesai perkara.
Persoalannya sekarang adalah,banyaknya pernak-pernik yang harus dibeli.Mulai dari lensa macam-macam yang harganya mahal-mahal itu,tas khusus kamera,sampai kit pembersih lensa.Sementara itu,istri tentu tak menganggap hal potret-memotret itu satu hal yang penting,jadi alokasi dana untuk itu bolehlah ditaruh di urutan nomor kesekian.Belum lagi dalam waktu dekat aku juga berkeinginan untuk membeli raket badminton.Sepertinya,hobi memang tak mau berhenti untuk menggerogoti uang dari kantong kita.Hobi itu rakus,seperti tikus.
Raditya Dika di Solo
Seorang lelaki berperawakan pendek,mungkin cuma sebahuku,berkulit putih dan berwajah imut berjalan di depanku. Di belakangnya tampak beberapa orang,yang memakai seragam hitam,tergopoh-gopoh mengikutinya.Orang itu,adalah Raditya Dika,seorang penulis novel yang cukup laris.Salah satu novel yang kupunyai adalah Kambing Jantan.Novel,yang kemudian menjadi salah satu inspirasiku,untuk menulis pengalaman pribadi di blogku yang sederhana ini.Aku bukan lah penggemar Raditya Dika,setidaknya itu bisa dilihat dari koleksi buku karyanya yang tidak semuanya aku beli.Novel Kambing Jantan pun-maaf kata,tidak selesai kubaca.Bukan karena jelek,tapi mungkin tidak selera saja.Seperti halnya pecinta musik dangdut yang tak terlalu suka musik rock.Atau pecinta baked beef lasagna yang tak terlalu suka singkong rebus.Atau bahkan,pecinta burung yang tak terlalu suka mendaki gunung.Ah sudahlah.
Tapi,aku respek pada Raditya Dika karena telah mampu menulis dengan baik,dan membuat beberapa penggemarnya,yang jumlahnya tak sedikit, jatuh hati.Mereka rela datang ke acara talkshow yang diselenggarakan di sebuah toko buku di Solo,dengan antusiasme yang tinggi.Aku sendiri,datang dari Wonogiri,yang jaraknya tak kurang dari 30 kilometer,berpanas-panas pula,karena datang naik sepeda motor tengah hari.Semua itu kulakukan demi satu hal: riset!Keren benar.
Aku ingin belajar,bagaimana dia bisa menulis seperti itu,apa saja kiat-kiatnya.Barangkali,setelah ikut acara talkshow itu,aku bisa menulis cerita dengan lebih mengalir,dan tentunya menarik.Dan sepintas lalu,kulihat mereka yang berdatangan,mayoritas adalah remaja putri.Hal ini bertolak belakang dengan peserta acara talkshow yang diselenggarakan di tempat yang sama,beberapa minggu sebelumnya,yang temanya tentang mainan bernama rubik.
Rupanya,telah ada semacam pembagian segmen pasar dalam hal ini: remaja putri senang membaca buku,terutama yang bersangkut paut dengan urusan cinta dan tetek bengeknya,sedangkan remaja putera lebih tertarik dengan mainan yang mengandalkan ketrampilan dengan rumus-rumus tertentu.Jadi,tidaklah mengherankan, jika SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas),lebih didominasi kaum hawa.Karena didalamnya ada pelajaran berkenaan dengan buku,utamanya buku akuntansi,yang didalamnya ada debit-kreditnya itu.Dan STM (Sekolah Teknologi Menengah),didominasi kaum adam.Tak lain karena minat remaja putera yang tinggi dalam mengutak-atik mesin dan peralatan elektronik termasuk resistor,transistor dan kondensator.
Suara Raditya Dika dalam acara itu kurang jelas,mungkin karena pengeras suara yang kurang prima,atau mungkin karena kupingku yang harus segera diperiksakan ke dokter THT.Tapi ada dua hal yang kutangkap.Pertama,saat dia menjelaskan,beda pria dan wanita dalam hal putus cinta.Wanita,lebih mudah memutuskan pasangannya,dibanding pria.Tanpa banyak cingcong,wanita bisa memutuskan pacarnya lewat telepon,dan pria yang malang itu,mau tidak mau harus menerima kenyataan hidupnya.Lain halnya dengan pria,yang hendak memutus pacarnya,pasti susah dan bertele-tele.Belum lagi kalau wanitanya mewek-mewek dan tak mau diputus.Aih.
Kedua,tentang permainan psikologis saat naik mobil berdua dengan pacar,saat kondisi bertengkar.Wanita bilang "turunkan aku di sini".Pria diam saja.Wanita bilang "turunkan aku di sini!!! (dengan tiga tanda seru)" berulang-ulang,tapi sang pria tetap menyetir mobilnya dan berkata "udahlah sayang..jangan ngambek begitu..",dengan wajah memohon.Tapi wanita berkehendak lain "kalau tidak nurunin aku di sini,aku bakalan lompat".Pria menyerah, "oke oke..tunggu sebentar..baiklah kamu kuturunkan di sini".Mobil pun menepi dan kemudian berhenti,dan pria itu lalu berkata "silakan turun".Wanita menangis dan berkata "kok kamu tega sih nurunin aku di sini".
Tentang teori putus-memutus ala Raditya Dika itu dan tentang sikap dilematis dalam mengahadapi wanita itu,aku tak mengatakan itu benar atau salah.Tapi sepertinya dia sudah mengadakan riset mengenai hal tersebut,dan mungkin juga,ditambah dengan pengalaman pribadinya.
Dan karena suara yang tak jelas tadi,aku mengalihkan perhatian pada seorang lelaki yang ada persis di sampingku.Dia sepertinya adalah seorang fotografer.Berkali-kali dia menjepret dengan kamera DSLR-nya,tapi kuintip hasilnya di layar LCD,tidak bagus-bagus amat.Aku pun juga bisa kalau hasilnya standar seperti itu.Dari caranya mengambil posisi saja sudah salah.Harusnya,dia ambil posisi di depan dan bukannya di belakang,jadi obyek utamanya bisa terlihat langsung.
Fotografer itu memakai modus manual. Waktu dia memakai kecepatan rana tinggi,obyeknya jelas,tapi gambarnya jadi gelap.Begitu kecepatan rana diturunkan,gambarnya terang,tapi obyek jadi kurang tajam.Begitu gambarnya terang dan jelas,di depannya tiba-tiba ada kepala penonton yang nongol.Rasakan itu.
Tentang Kuda
Hubungan antara suami dan istri bisa dianalogikan dengan hubungan antara kuda dan kusir.Entah simbiosis macam apa jadinya.Tapi demikianlah yang pernah aku dengar,dari seorang bijak bestari,dalam sebuah ceramah umum yang ditujukan bagi para calon pegawai negeri sipil.Nama orang itu,pak Soyo.Pak Soyo bertanya kepada para hadirin,siapa yang jadi kusir dalam keluarga.Ada yang menjawab,yang jadi kusir adalah suami,alasannya karena suami adalah kepala keluarga,yang mana tugas utamanya adalah memimpin keluarga.Tapi ada juga yang berpendapat sebaliknya,alasannya,karena menganggap istri sebagai kuda,yang menarik beban sedemikian beratnya-termasuk kusir tentu saja,adalah hal yang tidak manusiawi.Pak Soyo,dengan segenap kebijaksanaannya,menjelaskan dengan seksama.Diam-diam,aku tertarik dengan senyumnya.Jika pak Soyo tersenyum,maka akan nampak hampir seluruh giginya,setidaknya sampai gigi geraham pertama.Senyum yang sangat lebar,terlebar yang pernah aku jumpai.
"Kusir dalam rumah tangga adalah istri",demikian pak Soyo mengawali ceritanya.
Kusir,kata pak Soyo,bertugas merawat kuda,yang mana bekerja keras untuk menarik kereta.Kereta itu ibarat biduk rumah tangga,dimana didalamnya ada anak dan istri.Kuda yang kuat dan trengginas, pastilah dipelihara oleh kusir yang baik dan tahu tata cara memelihara kuda.Sedangkan kuda yang kurus kering,loyo,apalagi congekan,menandakan kusirnya tak terlalu peduli dengan kudanya.Mau makan tak peduli,mau mandi tak peduli.Yang pada akhirnya,kuda-kuda pesakitan seperti inilah yang minggat mencari kusir-kusir lain,yang lebih semlohai.
Dan Kawan,kuberi tahu satu hal,setiap kuda pasti diberi kacamata oleh kusirnya,supaya jalannya lurus tidak tolah-toleh."Karena apa,karena setiap kuda adalah binal!",demikian kata pak Soyo.Demi kebaikan,sebaiknya memang setiap kuda harus memakainya.Kalau mata kudanya ternyata juling?Nah aku belum sempat berpikiran sampai di situ.
Kusir,tiap pagi membangunkan kudanya untuk diberi makan.Sama halnya dalam keluarga,ambil contoh keluarga pak tani di desa.Tiap pagi-sebelum suaminya bangun,si istri sudah menyiapkan segelas kopi dan beberapa potong singkong rebus.Setelah sholat Subuh, pak tani sarapan kopi dan singkong itu sebelum berangkat ke sawah.
Kemudian saat makan siang, si istri mengantar jatah makan siang ke sawah.Makanan apa pun,kalau kuda sedang lapar,pasti disikat habis.Dan kalau sudah seperti itu,si kuda harusnya juga tahu diri,tidak malas-malasan dalam bekerja.Di dalam kuda yang kuat,seharusnya terdapat semangat bekerja yang hebat.
Dan salah satu 'kuda' terkuat di dunia, tentu adalah ayahku. Kerja keras banting tulang rawe rawe rantas malang malang putung.Dalam kisah-kisah klasik,ayahku mungkin bisa disejajarkan dengan Hercules.Atau kalau agak modern sedikit bisa dibandingkan dengan si Pitung.Atau kalau hendak dibandingkan dengan kuda sesungguhnya,maka bisa saja mirip dengan kuda jenis Clydesdale yang gagah itu.Atau jenis Percheron yang tangguh bukan buatan itu. Badannya kuat,kulitnya hitam legam,dan konon pernah juara lomba lari.
Sampai akhirnya kuda itu menua,dan kakinya tak selincah dulu.Semangatnya terus menggebu,meringkik-ringkik,walau raga tak lagi kuat menopangnya.Dan kuda itu terhuyung-huyung,lalu sekonyong-konyong tersandung dan kepalanya terjerembab.Dan di saat-saat genting seperti itu,kusir yang baik telah merawatnya dengan sepenuh hati.Walaupun mungkin juga ia tahu,bahwa kuda tua itu takkan bisa diharapkan untuk berlari sekencang dulu lagi.
Fina
Hari ini, 16 Juli 2010, adalah hari ulang tahun Fina.
…
Rasanya baru saja bertemu dengan seorang mahasiswi bernama Fina.Masih kuingat betul tangannya yang basah saat berjabat tangan dulu,saat pertama kali berjumpa.Seorang gadis berparas elok, badannya tinggi semampai. Rambut panjangnya dikepang, dengan poni menyamping ke kiri, menutupi sebahagian dahinya yang luas. Matanya bulat seperti bola ping pong, kata Iwan Fals. Hidungnya yang datar dan lebar dipadu dengan dagu yang runcing. Di antaranya ada bibir yang mungil, dan bila merekah akan nampak gigi serupa biji mentimun yang tertata sesukanya. Memang tak secantik Kate Hudson, tapi seperti yang aku katakan saat pertama kali aku berjumpa dengannya, dia baik.
Setiap manusia adalah istimewa,sayangnya,tidak semua orang melihatnya.Fina,adalah wanita yang istimewa,setidaknya menurutku begitu.Keistimewaan itu mungkin datang dari kesederhanaannya.Penerimaannya atas diriku yang serba terbatas,seorang lelaki tinggi kurus berkulit gelap yang udik.Dan tak lupa,dia adalah wanita berambut lurus panjang yang sejak dulu kuidam-idamkan.
Kisah menarik biasanya diawali dengan sesuatu yang biasa saja.Siapa sangka pertemuan yang teramat singkat di bandara Juanda itu akan menjadi pangkal dari sebuah untaian kisah yang sangat berarti bagiku. Nasib memang sulit ditebak. Surabaya yang dulunya asing tiba-tiba menjadi sedemikian akrabnya.
Apa yang terjadi seminggu yang lalu seperti mimpi. Saat aku mengucapkan kalimat "saya terima nikahnya Elfina Yuke Krisnawati bla bla bla",sambil menjabat tangan ayahnya. Lalu diikuti pembacaan doa oleh seorang ustadz dan yang lain mengamini.Aku masuk ke suatu tahap kedua kehidupan-demikian pamanku menyebutnya,setelah lahir dan sebelum mati, yaitu menikah!
Dan Kawan, rasanya memang seperti mimpi,ketika aku menjumpai seorang wanita di tempat tidurku, di kamar pengantin itu, dengan senyumnya yang manis. Manis tak terperikan.
Selamat ulang tahun,Fina. Salam sayang selalu.
Rapat Hari Sabtu
Tak tahu harus menulis apa. Aku seperti naik kereta api super cepat TGV. Hal-hal yang ada di depan mata tak bisa kulihat dengan jelas dan detil. Aku juga tak punya apa itu photographic memory, sehingga aku harus berpikir sedikit lebih lama dari kebanyakan orang untuk menganalisa sesuatu. Aku hanya bisa melihat pemandangan yang jauh, konstan dan menjemukan. Ini adalah kerugian, manakala kamu telah mengalami banyak hal tapi tidak bisa menarik pelajaran dari situ. Aku berangkat kerja di pagi hari, lalu pulang malam hari. Tidur setelah menelfon pacar. Atau kadang malah tidak tidur, karena harus jaga malam di rumah sakit.Waktu seperti roda pedati. Kadang berputar lambat kala jalanan menanjak, kadang berputar cepat kala jalanan menukik. Seperti halnya teori Einstein tentang apa itu dilatasi waktu, bahwa orang yang bergerak mendekati kecepatan cahaya maka waktu akan berjalan lebih lamban bagi orang itu. Dan sekarang, rasanya pedati itu seperti sedang menuruni jalanan Tawangmangu yang terjal dan berliku.
Praktek dokter di rumah semakin sepi saja. Aku jarang buka praktek sekarang. Setelah satu minggu mengikuti pelatihan di Bekasi (16 - 20 Mei 2010), selang satu minggu kemudian (30 Mei - 5 Juni 2010) aku dikirim ke Surabaya untuk mengikuti pelatihan dengan topik yang kurang lebih sama. Sepulang dari pelatihan pun aku lebih sering jaga sore. Akibatnya jelas, pasien yang sebelumnya satu-dua datang, kini tak ada lagi. Tidak jelasnya waktu buka praktek akan sangat mempengaruhi kedatangan pasien yang hendak berobat.
Padatnya jadwal jaga membuatku sedikit terlambat mem-follow up hasil pelatihan. Pertemuan dengan pihak manajemen RS baru terlaksana dua minggu sepulang dari Surabaya. Ikut dalam pertemuan itu dokter spesialis paru, tiga perawat dan seorang analis laborat.
Kami membahas jejaring internal DOTS di RS. Tujuannya yang jelas supaya pencatatan dan pelaporan kasus TB menjadi teratur. Konsepnya begini, perbaiki apa yang ada di dalam dulu, baru kemudian mencoba memperbaiki keadaan di luar. Untuk itu aku mengusulkan tiga hal. Pertama, pelayanan TB dilakukan satu pintu, melalui sebuah unit bernama Unit DOTS. Pasien TB dewasa, baik paru maupun ekstra paru, diterapi Unit DOTS. Sementara itu pasien TB anak, diterapi oleh spesialis anak, dengan pencatatan yang jelas.
Kedua, perlunya perawat yang full time mengurusi hal itu, mulai dari pencatatan dan pelaporan, penunjukan PMO dan konsultasi. Dan ketiga, pemeriksaan dahak untuk tersangka TB memakai blangko TB 05, yang mana penomorannya dilakukan di Unit DOTS.
Tanggapan dari pihak manajemen RS saat rapat cukup bagus, dan aku harap tiga hal itu bisa terlaksana dalam waktu dekat. Semoga.
2010 FIFA World Cup South Africa™
Pelatihan DOTS – HDL
Pada tanggal 16 hingga 20 Mei 2010, aku dan temanku mengikuti Pelatihan DOTS – HDL tahun 2010 yang diselenggarakan di Grand Cikarang Hotel, Bekasi. Pelatihan berlangsung selama lima hari, mulai jam 08.00 sampai jam 17.15. Fasilitator berasal dari Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medika, Kementerian Kesehatan RI.Kami ke Bekasi naik bis. Alasan pertama, karena kami tidak mendapat uang saku sepeser pun, jadi kami lebih memilih transportasi termurah. Alasan kedua, dan ini yang terpenting, karena lokasi pemberhentian bis ke Jakarta yang hendak kami naiki letaknya sangat berdekatan dengan Grand Cikarang Hotel. Bandara maupun stasiun kereta api jauh letaknya.
Setelah menempuh perjalanan selama 14 jam, dan sempat hipotermia di dalam bus karena dinginnya AC, kami akhirnya sampai juga di hotel yang dituju sekitar jam 6 pagi. Setelah meletakkan barang-barang kami bergegas ke coffe shop dalam hotel untuk sarapan. Saat itu kami belum mandi. Heran juga dengan orang-orang yang sarapan di tempat yang sama. Mereka sudah bersih, wangi, necis dan membawa tas bertuliskan Pelatihan DOTS-HDL. Tak ayal, mereka adalah peserta workshop juga seperti halnya kami, tapi kok sudah bawa tas segala? Kami mengacuhkannya, karena yang kami tahu acara baru dimulai jam 12.00. Itu menurut jadwal yang kami bawa dari Wonogiri.
Sesampai di kamar, kami tidur-tiduran, sambil menonton HBO. Omma..nyaman benar. Dinginnya kamar ber-AC sangat sinergi dengan perut kenyang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, aku iseng-iseng menelfon mbak-mbak resepsionis, barangkali ada informasi terbaru mengenai workshop.
“Halo”
“Halo Bapak. Ada yang bisa kami bantu?”
“Ini Andri dari kamar 206. Saya peserta workshop Depkes. Acaranya dimulai jam 12 kan?”
“Maaf Bapak. Acara Depkes sudah dimulai sejak kemarin malam. Silakan Bapak langsung mendaftar ke Aula lantai 1”
Waduh!
Workshop berjalan menyenangkan. Yang jelas makan sehari tiga kali dengan menu yang enak dan bergizi, serta memenuhi kriteria Empat Sehat Lima Sempurna. Kamar hotel sejuk, ditemani dengan seduhan teh hangat Sosro Heritage yang bercita rasa tinggi. Siaran televisi mulai dari BBC, HBO sampai Star Movie ada semua.
Lima hari membahas modul tentang TB menjadi tak terasa.
Sekembalinya dari Bekasi aku laporkan apa yang aku dapat kepada Wadir Yanmed. Aku menghargai tanggapan yang diberikan beliau, termasuk paparannya mengenai beberapa kendala yang dihadapi rumah sakit selama ini dalam pelayanan pasien TB. Unit DOTS sebenarnya sudah ada, tapi tak berfungsi. Aku juga mendapat beberapa masukan dari spesialis paru, terutama pentingnya kebijakan dari Direktur mengenai jejaring internal.
Berikut oleh-oleh dari Cikarang.
***
Hospital DOTS Linkage
Menurut WHO (1999) jumlah pasien Tuberkulosis (TB) di Indonesia sekitar 10% jumlah pasien TB di dunia dan merupakan ke 3 terbanyak di dunia setelah India dan China. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menyatakan penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit stroke, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kondisi ini diperparah oleh kejadian HIV yang semakin meningkat dan bertambahnya jumlah kasus kekebalan ganda kuman TB terhadap OAT atau MDR-TB bahkan XDR-TB.
Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %. Daerah dengan ARTI sebesar 1%, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk tersebut, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak akan menjadi pasien TB, hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi pasien TB.
Program Nasional Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS di Indonesia dimulai pada tahun 1995. Sampai akhir 2007, program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS telah menjangkau 98% dari jumlah Puskesmas yang ada, namun untuk rumah sakit baru sekitar 38%, sedangkan BP4/BKPM/BBKPM sekitar 97%. Padahal, pada kenyataannya, pasien TB bukan hanya datang ke Puskesmas, melainkan juga ke Rumah Sakit.
Tujuan Program Penanggulangan TB ada tiga yaitu menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB, memutuskan rantai penularan serta mencegah terjadinya MDR TB. Sedangkan Target program penanggulangan TB Nasional adalah menemukan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan pasien baru TB BTA positif dan menyembuhkan paling sedikit 85% dari semua pasien baru TB BTA positif yang diobati.
Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan Strategi DOTS. Strategi DOTS terdiri dari lima komponen, yaitu: komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana; diagnosis TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung; pengobatan dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO); kesinambungan persediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek untuk pasien; dan pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program TB. Setiap Pelayanan TB harus berdasarkan Internasional Standard for Tuberculosis Care (ISTC). ISTC terdiri dari 6 standar untuk penegakan diagnosis, 9 standar untuk pengobatan, dan 2 standar untuk fungsi tanggungjawab kesehatan masyarakat.
Pelaksanaan pelayanan TB di rumah sakit sangat rumit dengan keterlibatan pelbagai bidang disiplin ilmu kedokteran serta penunjang medik, baik di poliklinik, maupun bangsal bagi pasien rawat jalan dan rawat inap serta rujukan pasien dan speciment.
