Mari Kita Mudik
mu·dik v 1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman); 2 cak pulang ke kampung halaman. Alhamdulillahirabbil’alamin.. Insya Allah nanti sore saya bakal mudik ke tanah air tercinta, CIANJUR BERSEMI (Bersih Indah Memikat), setelah lama melanglangbuana di kota rantau SOLO. Siap-siap bertemu keluarga tersayang, dan teman-teman yang dirindukan. Sudah banyak rencana yang meletup-letup di otak [...]
Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi
Adalah sebuah adagium Jawa untuk menggambarkan pentingnya keteguhan mempertahankan keutuhan wilayah dan kedaulatan negara serta martabat bangsa. Dalam lingkup kecil, adagium ini sering digunakan di skala rumah tangga dan kepemilikan pribadi. Dalam lingkup makro, ya seperti itu, urusannya sampai bangsa dan negara. Tentu saja pada ujungnya, urusan mempertahankan kedaulatan dibutuhkan peran penting para pengambil keputusan [...]
Sahur bersama Gudeg Ceker Margoyudan
Di Terminal Bus Tirtonadi, waktu menunjukkan jam 2 pagi, istriku baru saja turun dari bus yang mengantarnya dari Surabaya. Sudah kucegah sebenarnya, supaya jangan pergi malam-malam. Apa daya, istri nekat saja. Karena bulan puasa, dan kebetulan istri sedang tidak berhalangan, maka kami berinisiatif membeli nasi untuk sahur.Warung yang masih buka saat itu, yang kutahu, salah satunya adalah Gudeg Ceker Margoyudan. Lokasinya dari Terminal Bus Tirtonadi tak terlalu jauh, tepatnya di Jalan Wolter Monginsidi, atau kalau dari Stasiun Balapan sekitar 1 km menuju ke arah Panggung, di kiri jalan. Konon kabarnya, warung ini tiap harinya buka jam 01.30, pun di luar bulan puasa.
Dari kejauhan sudah tampak ramainya. Dalam warung yang dilingkupi terpal itu nampak seorang ibu tua dikerumuni oleh beberapa pembeli yang nampak tidak sabaran. Ada yang minta dibungkus, tapi banyak juga yang langsung makan di tempat. Ibu tua itu, adalah sang peramu gudeg, yang kalau tidak salah bernama Bu Kasno. Tangannya dengan lincah mengambil gudeg dan mencomot ceker sesuka hati. Wajahnya acuh saja, tak peduli dengan pelanggannya yang minta dilayani lebih dulu. Ceker-ceker itu diambil langsung dengan tangan kosong, tanpa alat bantu. Barangkali sentuhan dari Bu Kasno itulah, selain dari takaran gudeg dan nasi yang terukur tentu saja, yang menjadikan gudeg ini nikmat tak terperi.
Aku sendiri memesan empat bungkus, dua untukku dan dua lagi untuk istriku. Sebungkus rasanya belum cukup untuk mengganjal perut rakus ini. Dilihat dari cara Bu Kasno melayani pembeli, tampaknya ia mempunyai seorang ‘tangan kanan’, yang berada di sebelah kirinya. Belakangan aku tahu namanya Aris. Tugas Aris adalah menjadi jubir sekaligus kasir. Jadi, bila ingin cepat dilayani, dekatilah Aris ini.
Gudeg Ceker ini beda dengan gudeg yang kutemui di Malioboro Jogja. Kalau Gudeg Jogja, lauknya irisan telur rebus dan suwiran daging ayam saja, tanpa cakar ayam. Cakar ayam olahan Bu Kasno ini sangat lunak, sehingga tinggal menyesap saja sudah terpisah antara kulit dan tulangnya. Di sinilah sensasi yang dicari pembeli hingga rela mengantri. Belum lagi bila ditambah dengan nikmatnya gudeg. Hanamasa rasanya tinggal kenangan.
Jaman Edan, Yen Ra Utang Ora Keduman
Perlahan Pak Margono beringsut dari halaman rumahnya. Meski engkel kaki dan lututnya masih terasa perih, tetapi pensiunan TNI itu memaksanya. Rasa bosan begitu menyanderanya beberapa hari. Kebiasaan nongkrong bersama tetangganya terpaksa sedikit dikurangi karena luka-luka akibat kecelakaan. Tetapi hari ini rasanya tidak tahan. Paling tidak sekedar menyapa dan menikmati teh jahe gepuk wedangan Bina Koya harus dinikmati in situ meski hanya dalam sekejap. Berbekal rokok kretek kegemarannya dan uang lima ribu perak, veteran perang Seroja itu nekat menuju wedangan. Masih sepi. Jam belum juga menunjukkan pukul tujuh malam. Hanya Pak Lurah Johni yang asyik nongkrong sambil menyantap sebungkus nasi kucing. … Continue reading
Jualan Doa????
Jam 14 siang tadi ketika baru sampai di kantor setelah menyelesaikan tugas ke Jogjakarta, sewaktu duduk santai sembari melepas lelah, tiba-tiba salah seorang kawan bilang : “enak yo nek wulan Pasa ngene kiye. Akeh wong kang entuk rejeki lan berkah”. (enak ya kalau bulan Puasa begini. Banyak orang mendapatkan berkah dan rejeki). Tak jawab, “Kok bisa???” Lalu dia mulai bercerita.
Menurutnya kemarin ada orang datang ke kantor sambil membawa lembaran kertas. Kemudian orang tersebut menyampaikan maksudnya untuk meminta shadaqah. Namun bukan sekedar meminta, orang tersebut menyodorkan lembaran kertas yang dibawanya kepada kawan saya itu sambil bilang “ini ada selembar kertas doa mas, siapa tahu sampeyan membutuhkan. Untuk infaqnya seikhlasnya saja mas”.
Saya jadi tertarik mendengar cerita tersebut dan segera meminta kertas doa yang diberikan tersebut. Ternyata isinya bertuliskan doa barokah. Bagi saya ini adalah hal baru ada orang minta shadaqah dengan membawa kertas doa. Baru kali ini saya menjumpainya. Dan jelas orang tersebut sangat inovatif menurut saya, mampu dan cerdas memanfaatkan momen bulan Ramadhan, dimana umat Islam pada berpuasa dan bulan dimana berdoa sangat dianjurkan oleh Kanjeng Gusti ALLAH SWT akan mengabulkan doa-doa kita.
Ada teman yang bilang ini namanya menjual doa. Ada yang berpendapat nggak masalah, yang penting kita ikhlas ngasih. Menurut saya sih nggak masalah, sebab ini sama halnya kita membeli buku kumpulan doa-doa. Cuman bedanya kalau membeli buku kumpulan doa kita musti datang ke toko dan harga sudah dipatok oleh penjualnya, sedangkan yang ini kita “membelinya” dengan seikhlas kita.
Justru ini menarik, unik dan inovatif. Selain juga jelas membuat kita mendapatkan pahala shadaqah. Bagaimana menurut sampeyan semua???
It’s really love song
Mari sedikit menjadi melankolis dengan membicarakan masalah cinta. Tak masalah kan? dan saya rasa menjadi melankolis di zaman sekarang memang tak ada salahnya, toh tiap hari bangsa Indonesia dicekoki lagu-lagu melankolis bertemakan cinta. hufft sampai bosan sendiri sebenarnya saya kalau dengar lagu-lagu cinta Indonesia sekarang, terlalu eksplisit, gak ada gregetnya sama sekali *lho?*. Tapi beneran [...]
jika bung Karno masih ada
negara tetangga, yang dulu sering kita sebut adik, sekarang sudah besar, malah lebih kuat dari kita dan sudah berani melawan kita dengan terang-terangan. mereka dengan berani menagkap petugas DKP yang bertugas di wilayah RI dan dijadikan bahan barter dengan pencuri ikan. negara ini didirikan dengan merebut kemerdekaan, bukan dengan pemberian seperti negara tetangga, oleh krena itu negara ini
Jelajah Pantai Glagah
Perjalanan kali ini menuju ke salah satu pantai yang terletak di kabupaten Kulon Progo. Untuk menuju lokasi cukup mudah, hanya melewati jalan Jogja-Wates kemudian belok kiri mengikuti arah sesuai petunjuk arah menuju ke Pantai Glagah. Sebelum memasuki kawasan wisata Pantai Glagah kami melewati sebuah perempatan yang merupakan pasar yang ramai dipagi hari. Pantai Glagah terletak di [...]
Bang Napi
Sudah 19 tahun ini pemirsa televisi khususnya RCTI disuguhi Sergap (sejak 24 Agustus 2001) yang menayangkan berita-berita kriminal yang terjadi setiap hari. Ada segmen khusus yang menarik di penghujung acara itu yakni Bang Napi. Akhir-akhir ini malah segmen itu berkembang Bang Napi Lepas, dimana Bang Napi ikut meliput berita-berita kriminal sebelum akhirnya memberi nasehat; “Kejahatan [...]
Ratu Boko, Keraton yang Hilang
“Pernahkah membayangkan, bahwa pada jaman Mataram Kuno, kita pernah mempunyai keraton dengan luas + 25 hektar?”, tanya Bintang sambil membuka-buka laptopnya. “Berdasarkan laporan Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton.” Teguh yang sejak tadi hanya melamun menjadi tertarik. “Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs pemukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada … Continue reading
