Kelainan Jantung, Balita Butuh Biaya
Chiko Jovian Alva Rizqi, bocah berusia dua tahun menderita kelainan jantung sejak usia tiga bulan. Menurut laporan harian Joglosemar edisi 23 April, hampir setiap hari si bayi mengalami lemas dengan nafas terengah-engah, lalu bibir hingga jemarinya membiru. Sang nenek hanya bisa memberinya minum hingga kembali normal. Selengkapnya →
Dua Kaos Bengawan
Saudara-saudara Bengawaners dan kaum onliners di manapun Anda berada, ijinkan Bengawan menawarkan desain kaos kami.
Desain pertama, “Meet Me @ ……….” dibuat beragam warna: hitam, putih, hijau dan hijau muda. Berbahan katun 100 persen, cetakan model kombinasi timbul (emboss) dan separasi warna. Bagi Anda yang menginginkan versi personal, Anda bisa memesan dengan menggunakan nickname Anda. Misal: “Meet DonyRockDJ @……”.

Harga kaos dibanderol Rp 75 ribu, sudah termasuk ongkos kirim untuk wilayah seluruh P. Jawa. Sedang untuk yang menginginkan cetakan nickname pada kaos, kami kenakan tambahan biaya sebesar Rp 5.000/potong.

Khusus model ini, hanya tersedia dua pilihan warna: hitam dan putih
Tersedia pilihan untuk kaos model perempuan gaul, yang Islami (maksudnya berlengan panjang)…… Silakan sertakan data pesanan: ukuran/warna/jumlah/model umum atau ber-nickname. Pembayaran via transfer: BCA, BNI, Bank Mandiri… (nomernya menyusul, ya…)
Desain kedua, masih bernuansa jejaring sosial. Silakan dicermati sendiri, apakah dengan memanfaatkan berbagai social media berarti kita menjadi seorang Sosialis, dalam pengertian suka bersosialisasi? Hehehe….
Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar…..
Maaf, ada yang terlewat soal tenggat. Untuk Periode I, pemesanan ditutup Minggu, 14 Pebruari 2010 pukul 23.59. Pembatasan dilakukan semata-mata agar distribusi pengiriman ke luar kota bisa dilakukan pada Selasa (16/2). kendati demikian, diharapkan sebelum tanggal itu sudah bisa dilakukan proses delivery. (Updated: 13 Peb 2010, 2:57 AM)
Kunjungan Bengawan di Laweyan

Anggota keluarga Bengawan sedang mendengarkan paparan Mas Widhiarso dan Mas Gunawan di kompleks Batik Putra Laweyan
Mendung seperti enggan bergelayut di atas Kota Surakarta ketika belasan anggota komunitas blogger Bengawan yang dikomandani DonyAlfan dan Panjoel si Tukang Nggunem menginjakkan kaki di bumi Kampung Batik Laweyan. Kedatangan kami molor lima belas menitan.
Beruntung, Mas Gunawan (duduk paling kanan, dekat bar) sebagai wakil tuan rumah sabar menanti kedatangan kami. Satu demi satu, teman-teman mulai berdatangan sampai akhirnya mencapai belasan. Lumayan bagi Bengawan, tapi dhedhel duel bagi tuan rumah. Es temulawak dihidangkan sebagai jampi salit (obat penawar haus) di sudut kompleks rumah batik Putra Laweyan, milik Mas Gunawan.
Kami memperoleh gambaran komprehensif mengenai Laweyan. Dari asal-usul membatik yang diajarkan Kyai Ageng Henis, sesepuh Kerajaan Pajang hingga perkembangan mutakhir akibat jatuhnya usaha batik rumahan akibat kehadiran mesin printing yang diperkenalkan rezim Soeharto melalui Batik Keris di sebelah tenggara Laweyan.
Tak cuma itu, mengapa rumah-rumah di Laweyan berpagar tembok tinggi, pun diceritakan. Dulu, antarrumah ada pintu penghubung sehingga rapat pergerakan bisa dilakukan tanpa tercium tentara kolonial. Juga, kebiasaan Mas-mas Nganten, sebutan untuk kepala keluarga berjudi taruhan uang pada adu balap kuda di Balapan (kini stasiun kereta api).
Pokoknya, ceritanya lengkap. Silakan menanti hasil posting teman-teman Bengawan, atau tulisan Mas Hari D Utomo (berkaus hitam, wajah brewokan) di koran tempatnya bekerja di Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.
Terima kasih kepada Mas Gunawan dan Mas Widhiarso (duduk, tepat di tengah) yang telah meluangkan waktu dan berbagi cerita dengan kami dari Bengawan, bahkan mengantar kami ke kompleks Masjid Laweyan dan makam Kyai Ageng Henis. Jangan kapok kalau lain kali kami akan datang sendiri-sendiri.
Kami harap Anda sabar menanti posting-posting kami…..
Update:
Berikut adalah sejumlah penuangan teman-teman Bengawan:
- Batik Laweyan, Pionir Batik di Solo
- Menziarahi Laweyan, Menggenapi “Ke-Solo-an”
Gerakan Ngumpulke Buku
Temans, aku mau usul, nih. Bagaimana kalau Komunitas Bengawan menghimpun buku-buku, seperti Satu Alumni Satu Buku. Gak usah dibatasi bukunya jenis apa. Nantinya, buku yang terhimpun bisa disumbangkan lagi kepada semua pihak yang membutuhkan. Buku-buku pelajaran juga bermanfaat untuk bahan belajar. Sebagian masyarakat kita, nyatanya juga masih kesulitan membeli buku-buku sekolah.
Andai banyak terkumpul, kita bisa pilah-pilah. Untuk buku bertema anak-anak, bisa bekerja sama dengan Rumah Kenari untuk penyaluran, juga untuk sharing bareng. Siapa tahu, ke depan masyarakat Kampung Sewu ingin bikin rumah baca/perpustakaan kampung. Atau mungkin bagian dari ‘CSR’ Komunitas Bengawan, menginisiasi kemunculan rumah-rumah baca di kawasan slum dan sebagainya.
Btw, jangan salah paham lagi. Wetiga yang sedang dalam persiapan, nantinya juga akan disiapkan sebagai rumah baca, bekerja sama dengan BacaBuku. Tapi untuk rumah baca yang ini, saya mengandalkan sumbangan dari teman-teman di Jakarta dan berbagai kota. Ada dua penerbit yang siap ngirim maisng-masing 50 judul untuk Wetiga-BacaBuku. Seandainya ada buku yang dobel, bisa kami sumbangkan sekalian lewat Komunitas Bengawan.
Kalau tertarik, mari kita ramaikan. Banyak saudara kita yang ‘terbelakang’ bukan lantaran keterbatasan otak, namun lebih karena akses terhadap bahan bacaan yang sulit. Satu Alumni Satu Buku (misalnya, tapi boleh beberapa buku), misalnya, bisa dijadikan alternatif untuk meramaikan gerakan membaca. Untuk alamat pengiriman, silakan teman-teman mengajukan diri.
Ada yang mendukung?
digagas oleh pakdhe blontank poer
