Mimbar Teater Indonesia di Solo
Sebuah hajatan bertaraf nasional kembali digelar di Kota Solo. Kali ini bidang kesenian, khususnya seni pertunjukan teater, menampilkan karya-karya mereka dalam acara Mimbar Teater Indonesia. Bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah, mulai dari tanggal 25 – 30 Oktober 2009, secara bergantian kelompok-kelompok teater dari berbagai tempat di nusantara menampilkan aksi-aksi teatrikal yang sarat dengan pesan moral dan kritik sosial. Acara yang setiap harinya dimulai pada pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 23.00 WIB ini menampilkan Selengkapnya →
Identitas Solo dan Transformasi Kultural
Ada sebuah kekhawatiran berkait perkembangan kota-kota di Indonesia yang dirasa menuju arah yang seragam dan tak menampakkan ciri khas kedaerahan masing-masing. Pembangunan berbagai piranti bisnis modern—semacam mal, apartemen, gedung perkantoran, dan sebagainya—di berbagai daerah menunjukkan bahwa kota-kota di daerah memiliki kecenderungan menjadi sama dengan kota-kota besar yang terlanjur mengadopsi kultur metropolitan. Selengkapnya →
Davis Cup di Solo
Satu lagi peristiwa sejarah membanggakan dicatatkan di Solo. Kali ini, Lapangan Tenis Manahan menjadi saksi penting, dimana Davis Cup, perhelatan tenis kelas dunia dilangsungkan. Dalam pertandingan Grup II Zona Asia-Oceania, 6-8 Maret ini, tim Indonesia berhadapan dengan tim Kuwait.
Bandaranya Baru, TKI-nya Diperhatikan
Terminal baru Bandara Adi Sumarmo bakal diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu (7/3) mendatang. Tak cuma menyandang status baru sebagai bandar udara internasional, di kompleks Bandara Adi Sumarmo juga dibangun terminal khusus untuk tenaga kerja Indonesia (TKI). Sebuah perkembangan menarik untuk saudara-saudara kita, yang selama ini dijuluki sebagai Pahlawan Devisa.
Kado Faisal untuk Surakarta
Pemerintah Kota Surakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-264. Kali ini merupakan yang kedua digelar upacara bendera dengan nuansa serba-Jawa. Kostum inspektur, komandan dan peserta upacara sama: dengan beskap, celana panjang dibalut jarik, ber-blangkon serta keris. Lelaki-perempuan, sama saja kostumnya.
Wiji Thukul dan Kuburan Purwoloyo
Sebuah puisi bisa membawa kita mengunjungi kompleks kuburan yang dulu terasa asing.
Pasar Yaik Hadir Kembali
Pemerintah Kota Surakarta menghadirkan kembali Pasar Yaik, setelah hampir 30 tahun tiada. Rencananya, pasar khusus souvenir/cinderamata dan aneka jajanan kering itu akan diresmikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, pada 16 Pebruari malam.

Souvenir berupa aneka jenis topeng. Ada yang bisa dipergunakan sebagai gantungan kunci, hiasan meja atau tembok
Pasar uji coba sudah dilakukan mulai Selasa (10/2) malam. Delapan tenda masing-masing berisi empat ‘lapak’ sudah dicoba pakai. Tak terlalu ramai, memang. Maklum, masih versi beta. Tapi pada saat peresmian nanti, sedikitnya bakal terdapat 80 tenda yang menampung 320 pedagang aneka buah tangan. Soal materi yang dijajakan, jangan kuatir. Produk-produk yang dijajakan didominasi oleh barang-barang yang berbau Solo dan sekitarnya.
Tenda-tenda besar tersebut nantinya akan didirikan menjelang petang hari dan digulung kembali menjelang pagi. Namanya saja night market, jadi ya memang pasarnya hanya ada pada malam hari. Jadi, kalau sejak Selasa petang Anda tak bisa berbelok menuju Pura Mangkunegaran dari arah Pasar Pon, ya harap maklum saja. Di sepanjang Jl. Diponegoro itu memang dikhususkan bagi para pejalan kaki.
Bagi Anda yang sibuk meeting di Solo pada siang hari, kini tak lagi susah mencari buah tangan. Apalagi bila harus segera kembali pulang dengan pesawat atau kereta pagi. Batik, aneka kue, srabi, atau apapun yang diinginkan, semua sudah disediakan. Pilih, bayar dan bawa! Simple.
Sekadar mengingatkan, sebutan Pasar Yaik, konon berasal dari kata-kata yang meluncur dari sang penjual sebagai tanda setuju, deal harga. “Yakk… Ikk..! ” kata si pedagang. Mirip kata yoi yang diucapkan anak-anak muda kini untuk menggantikan kata ‘ya’. Biar gaul? Bisa jadi…..
Pasar Yaik atau night market itu terletak di depan Pasar Triwindu, atau pasar yang khusus menyediakan komoditi berupa barang-barang kuno, juga antik (meski banyak pula yang tiruan alias repro). Pasar Triwindu yang baru selesai direnovasi itu juga bakal diresmikan bersamaan dengan Pasar Yaik.
Nah, kian banyak pilihan belanja cinderamata, bukan?
Sebuah Kitab tentang Solo
Menutup tahun 2008, Pemerintah Kota Surakarta menerbitkan buku Kitab Solo. Sebuah buku, yang menurut Bengawan, layak dijadikan rujukan bagi banyak pihak untuk tahu Solo lebih banyak.
Memang, buku ini tidak memandu Anda harus berbelanja apa, dimana dan mengajak kekasih yang mana. Tapi, dari buku tulisan Mas Arswendo Atmowiloto ini, kita bisa lebih paham , mengapa Wong Solo itu lebih adaptif, fleksibel dan ujung-ujungnya, bisa meng-create sesuatu menjadi seolah-olah baru. Munculnya selop dan beskap adalah betapa Wong Solo piawai menjadikan sesuatu sebagai ‘yang baru’ meski sejatinya adalah meniru, dengan kemampuan modifikasi sebagai bumbu (hal. 73).
Teladan toleransi, pun cukup gamblang dituturkan Mas Wendo, seolah mengingatkan betapa congkrah, perilaku amock bukanlah naluri genuine khas Solo seperti ditunjukkan pada kasus obong-obongan pada awal 1980-an dan tragedi Mei 1998. Adalah Sultan Agung yang mengawali penyatuan kalender Islam, Hindu dan Kejawen menjadi satu, tanpa merendahkan satu terhadap yang lain, sejak 1633 (hal. 67).
Mau tahu tentang apa itu sekaten, makna filosofis tirakatan juga ‘tumbal’ kepala ledhek untuk menutup sumber air di Desa Sala pun gamblang trawaca di buku itu. Perspektif lain mengenai tanggapan terhadap tulisan Mas Wendo di buku itu, kita tunggu saja hasil ‘pembacaan’ Paman Tyo. Sebagai priyayi Salatiga dan besar dalam kultur Mataraman Ngayogyakarta Hadiningrat yang egaliter plus pengalaman bergaul dengan kaum individualis metropolis, kami yakin beliau pasti memiliki catatan yang jauh berbeda dengan kami.
Kalaupun buku ini membuat gela, pastilah semua disebabkan oleh sedikitnya jumlah cetakan. Hanya 1.000 buku dicetak, dan diedarkan secara terbatas.
Kita berharap, buku itu segera di-massal-kan, dicetak ulang dan dikemas lebih baru, yang handy dan dijual bebas, meski perlu dilakukan banyak sekali revisi, khususnya kekeliruan penulisan dan salah cetak. Syukur, buku itu bisa dicetak pula dalam versi bahasa (minimal) Inggris, supaya lebih banyak orang yang menjadi kaya referensi mengenai Solo dan seluk-beluknya.
Syukur-syukur, bisa diedarkan dalam versi online. Hitung-hitung, memudahkan para pemandu wisata dan juru bicara dalam menjelaskan apa itu Solo?
Kita tunggu saja perkembangannya…..
Komunitas Bengawan: Optimalkan Telenta Anggota
Setiap orang memiliki talenta. Talenta mempunyai arti ketika seseorang berada di dalam lingkungan sosial. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan ruang berekspresi dengan orang lain di sekitarnya. Tidak mengherankan bila munculnya sebuah komunitas dengan anggota berlatar belakang heterogen, bisa membuat komunitas mempunyai manfaat bagi kelompok maupun sekitarnya.
Jokowi: Tokoh 2008 Versi Tempo
Sengaja jauh-jauh datang dari Jakarta, Fotografer Majalah Tempo Yosep Arkian tiba di Solo dengan satu tujuan: memotret Walikota Solo Joko Widodo dengan pose sebagai tukang becak.
Sebuah becak plus sopirnya disewa untuk keperluan pemotretan itu. Sebelum Jokowi dipotret, Yosep meminta sang tukang becak berperan sebagai model awal guna keperluan pengaturan cahaya dan posisi. Pemotretan sang pengayuh becak dilaksanakan di tepi rel kereta api.
Lucunya, saat sang tukang becak hendak dipotret, kereta api yang biasa menggunakan jalur rel di sana tiba-tiba nyelonong. Gawatnya, sang tukang becak enggan pindah dari posisinya. “Yang penting difoto dulu, Mas,” begitu kira-kira kata sang pengayuh becak pada Yosep. Gara-gara kejadian ini, Yosep sempat panik dan lemas.
Setelah kejadian menghebohkan itu, tiba giliran Jokowi dipotret. Yosep telah menyiapkan oblong dan kaus kaki untuk pak wali yang akan berperan sebagai pengayuh becak. Namun, saat melihat kostum dari Yosep, Jokowi menganggap pakaian itu “terlalu bersih” untuk seorang tukang becak. Maka, ia kembali ke rumahnya, mengambil kaus lusuh miliknya, lalu memakainya. Siaplah ia dipotret sebagai pengayuh becak!
***
Kisah lucu tadi adalah salah satu bagian dari “seremonial” penganugerahan gelar “Tokoh 2008” kepada Jokowi oleh Majalah Tempo. Dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Akhir tahun 2008, Jokowi beserta sembilan walikota dan bupati lain di Indonesia diganjar gelar “10 Tokoh 2008”.
10 orang kepala daerah tingkat II itu disaring dari tiga ratus lebih bupati dan walikota di seluruh Indonesia. Tim Tempo membutuhkan waktu tiga bulan lebih untuk mendapatkan nama-nama mereka yang layak dianugerahi gelar “Tokoh Indonesia 2008”.
Selain Jokowi, sembilan nama lainnya adalah: Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Andi Hatta Marakarma,; Bupati Jombang, Jawa Timur, Suyanto; Bupati Badung, Bali Anak Agung Gde Agung; Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin; Wali Kota Blitar Djarot Saiful Hidayat; Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono Sukarno; Bupati Gorontalo David Bobihoe; Wali Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Jusuf Serang Kasim; dan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.
Masing-masing kepala daerah ini dipilih karena kepemimpinan mereka menghasilkan kemajuan-kemajuan yang signifikan di daerah masing-masing. Untung Wiyono, misalnya, dipilih karena ia berhasil mengembangkan jaringan internet sampai ke pedesaan di Sragen. Jusuf Serang dipilih karena ia berhasil membangun banyak rumah sakit di Tarakan yang mampu menyembuhkan kota itu dari penyakit kronis. Bupati Jombang Suyanto, dipilih karena ia berhasil mengembangkan pusat kesehatan masyarakat di Jombang menjadi setara dengan rumah sakit kecil.
Sementara itu, Jokowi terpilih karena kesuksesannya mengatur pedagang kaki lima di Solo—Tempo bahkan menjulukinya “Wali Kaki Lima”. Tentu saja, kita masih ingat bagaimana pawai PKL Banjarsari yang “legendaris” itu. Mengenakan pakaian adat, menyunggi tumpeng sebagai lambang kemakmuran, dan dikawal pasukan adat Kraton Solo, para pedagang kaki lima itu pindah dari Banjarsari ke Pasar Klitihikan di Semanggi. Peristiwa yang kemudian menjadi perhatian nasional inilah yang menjadi salah satu “nilai lebih” pemerintahan Jokowi di Solo.
Uniknya, seperti terungkap di Majalah Tempo, prosesi pemindahan PKL Banjarsari ternyata diawali dengan serangkaian makan siang antara Jokowi dan para pedagang. Konon, Jokowi mengajak para PKL makan siang di Loji Gandrung sampai 50 kali lebih. Pada makan siang yang ke-54, Jokowi baru berani mengungkapkan niatannya untuk merelokasi pedagang. Jadi, selama 53 kali makan siang, para PKL itu hanya “SMP” (setelah makan lalu pulang) di Loji Gandrung.
Penghargaan yang diterima Jokowi ini melengkapi sejumlah penghargaan lain yang telah diterima Solo selama masa pemerintahannya. Sebelumnya, Solo memang telah mendapat sejumlah penghargaan, seperti penghargaan “Kota Pro-Investasi” dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah; “Kota Layak Anak” dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan; “Wahana Nugraha” dari Departemen Perhubungan; serta penghargaan kota kategori “Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh” dari Departemen Pekerjaan Umum.
Atas penghargaan terbaru ini, sudah selayaknya kita mengucapkan: “Selamat, Pak Wali! Semoga tetap menjadi bagian dari—seperti kata Majalah Tempo—‘sedikit orang baik di Republik yang luas’ ini”!
Haris Firdaus
http://rumahmimpi.blogspot.com


